9/7/11

CONTOH SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING “MENJADI DEWASA”


SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
“MENJADI DEWASA”

A.     Tema/ topic              : menjadi dewasa
B.     Bidang Bimbingan    : pribadi
C.      Jenis Layanan            : layanan informasi
D.     Fungsi Layanan         : pemahaman
E.      Kompetensi              : menjadi dewasa yang kuat
F.      Sub Kompetensi      : menyadari akan pentingnya menjadi dewasa yang mandiri dan kuat dalam menjalankan kehidupannya sendiri.
G.     Indicator                    : mengidentifikasi tolok ukur dewasa yang mandiri dan kuat menurut pandangan masing-masing.
H.     Sasaran                      : siswa kelas XI SMA
I.        Semester                   : Ganjil / 1 (satu)
J.       Tujuan                        :
1.       peserta didik dapat mengetahui akan pengertian dari ‘dewasa’ itu sendiri.
2.      peserta didik mampu memahami makna dari kedewasaan.

K.     Uraian Kegiatan dan Materi Layanan       :
1)    Uraian Kegiatan:
a.      Kegiatan awal
1)      Cek presensi siswa.
2)     Mengatur ruang dan kesiapan siswa dalam menerima layanan.
3)     Mengkontekstualkan materi ‘menjadi dewasa’ dengan dunia siswa dan kondisi nyata lingkungan.
4)     Memberi informasi kompetensi yang ingin dicapai dari materi layanan
5)     Siswa bergabung dengan kelompok yang sudah dibentuk sebelumnya untuk mendiskusikan tentang mengidentifikasi tolok ukur menjadi dewasa menurut pandangan kelompok mereka masing-masing.

b.      Kegiatan inti
1)      Siswa dalam setiap kelompok bekerja sama untuk mendiskusikan materi layanan.
2)     Memanggil salah satu siswa tiap kelompok untuk melaporkan hasil kerja sama, yaitu memaparkan hasil identifikasi yang dilakukan didalam kelompoknya.
c.      Kegiatan akhir
Kesimpulan materi untuk memantapkan pemahaman siswa akan tugas dan tanggung jawab diri.

2)   Materi layanan
Menjadi tua adalah absolute, namun menjadi dewasa adalah suatu pilihan. Setiap orang tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda akan pengertian dari dewasa. maka dari itu kita harus memahami bagaimana esensi dari dewasa itu sendiri.

L.      Metode                                              : ceramah, tanya jawab, diskusi
M.   Tempat Penyelenggaraan              : ruang kelas
N.     Waktu Penyelenggaraan                : 1 x 55 menit
O.    Penyelenggara Layanan                  : guru Bimbingan dan Konseling
P.      Pihak-pihak yang dilibatkan           : guru BK, siswa
Q.    Media                                                 : buku, laptop, LCD dan layar LCD
R.     Penilaian                                            : penilaian jangka panjang dan penilaian jangka pendek.
S.      Evaluasi                                              :
Input               : apakah siswa merasa membutuhkan materi yang disampaikan.
Proses                        : apakah siswa memahami materi yang disampaikan.
Produk                       : apakah siswa mampu menjadi pribadi dewasa yang kuat.

T.      Keterkaitan layanan ini dengan layanan yang lain          :
layanan konseling perorangan


 Materi : MENJADI DEWASA

PENGERTIAN DEWASA
Sebenarnya pengertian-pengertian dewasa yang umum dipahami oleh banyak orang terkadang justru menyesatkan. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan G.W. Allport mengatakan bahwa masa ketika remaja adalah suatu masa transisi dari periode anak ke dewasa. Pengertian dewasa itu sendiri menurut Allport :
1.       Extension of self atau “pemekaran” dari diri sendiri. Hal ini berarti seseorang mampu untuk menganggap orang lain sebagai bagian dari dirinya.
2.      Menjadi dewasa berarti mampu untuk melihat diri sendiri secara objektif (Self Objectification). Pengertiannya adalah ketika kita bisa “mengaca” melihat kepribadian kita sendiri. Dalam hal ini berarti tidak marah ketika menerima kritik dan justru kritik itu menjadi sarana untuk instropeksi diri, melihat kesalahan-kesalahan yang ada pada diri sendiri.
3.      Seorang yang dewasa dia memiliki falsafah hidup tertentu (Unifying Philosophy of Life). Biasanya hal ini berhubungan dengan etika atau agama. Sederhananya orang yang sudah dewasa dia itu tahu aturan, tidak berbuat seenaknya sendiri atau bertindak hanya untuk kepuasan sesaat. Dengan memiliki tujuan hidup / cita-cita yang jelas diikuti dengan ketegasan untuk mencapainya dalam perilaku sehari-hari.
Kedewasaan adalah ketika seseorang bertambah bebanya namun ia dapat menemukan dan menyelesaikan masalahnya dengan baik. senyuman tidak menandakan seseorang itu mempunyai kedewasaan yang baik begitu juga banyaknya beban namun cara penyelesaian dan kognitifnya yang dilihat.
Untuk menjadi dewasa, seseorang harus memperhatikan beberapa hal yang menjadi tolak ukur apakah orang tersebut telah menjadi dewasa, atau belum. Diantara faktor-faktor itu adalah:
1.       Kematangan berfikir: Seorang yang dewasa, tahu bagaimana harus berfikir sebelum bertindak (berbuat). Ia tahu betul pentingnya perencanaan sebelum melakukan suatu hal, dan evaluasi setelah melakukannya; tidak serta merta, dan tidak “grabak-grubuk”. Seorang yang dewasa dapat berpikir logis, dan kritis.
2.      Kedewasaan emosional: Seorang yang dewasa, dapat memahami dan mengendalikan gejolak emosinya. Justru itulah yang membedakannya dengan seorang anak kecil, yang tidak tahu mengapa ia emosi dan bagaimana mengendalikannya. Ia mampu menyalurkan dan menempatkan emosinya pada sesuatu yang benar, tidak salah kaprah.
3.      Kecerdasan ruhaniyah: Seorang yang dewasa, memiliki jiwa yang tenang; dalam arti tidak ada kegundahan yang menyebabkan jiwanya labil. Kecerdasan ruhaniyah adalah kemampuan ruhani untuk meyakini dan memahami, bahwa ketenangan sejati itu bersumber dari yang Maha Menenangkan. Ruhani yang cerdas, mampu mengetahui betul bahwa banyak keterbatasan yang ia miliki, sehingga ia dapat menempatkan diri di hadapan Sang Penciptanya, mengetahui hak-Nya, dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlashan.
4.      Kepekaan sosial: Seorang yang dewasa, akan melihat dirinya adalah bagian dari masyarakat. Suatu komunitas hierarki yang majemuk. Kepekaan hati terhadap masalah dan kondisi sosial realita, akan mampu menumbuh-kembangkan rasa empati, yang menepis jauh-jauh rasa egois dalam berbuat suatu hal. Seorang yang dewasa akan sangat peka, bahwa apa yang dia berikan hari ini kepada orang lain, suatu saat akan dia terima dari orang lain.

Menjadi Dewasa yang Kuat
Menjadi dewasa yang kuat dapat dibangun melalui cara-cara berikut ini, yaitu :
a.      Mengenali berbagai kelemahan, ketakutannya, caranya yang utama dalam mengungkapkan perasaan-perasaan yang dialami.
b.      Mengenali bagian orang tua : macam-macam nasehat yang diberikan, perintah sikap yang tetap, dan cara-caranya yang pokok dalam mengungkapkan kesemuanya ini (nasehat, perintah, dan cara penyampaian).
c.      Peka terhadap bagian kanak-kanak orang lain, berbicara pada bagian kanak-kanak itu, memberi dorongan pada bagian kanak-kanak itu, melindungi bagian kanak-kanak itu, dan menghargai kebutuhannya akan pengungkapan yang kreatif atau beban yang tidak sesuai yang sedang dipikulnya.
d.      Memisahkan pikiran kanak-kanak dan orang tua dari kenyataan.
e.      Melewatkan saja jika ragu-ragu. Orang tidak dapat diserang, karena ia tidak memberikan rangsangan.
f.       Membangun suatu system nilai. Orang tidak dapat membuat keputusan tanpa sandaran suatu kerangka etika.
Apabila kita belum bisa menjadi dewasa, setidaknya kita bisa belajar bersikap dewasa. minimal ada 3 langkah yang bisa kita lakukan untuk bisa bersikap dewasa, yaitu:
1.       Tidak Emosional atau Tergesa-gesa. Sikap tenang dan tidak emosional dibutuhkan baik ketika berkomentar, mengambil sikap, ataupun ketika menentukan sebuah keputusan. Karena andaikata tergesa-gesa biasanya keputusan yang diambil kurang tepat.Apalagi bila kurang ditunjang oleh data dan fakta yang akurat. Dan permasalahan akan bertambah jika disikapi pula dengan sikap yang emosional. Oleh karena itu kita harus latihan untuk bisa meredam sikap yang emosional.
2.      Berlatih Untuk Bijak. Kadang kala kita bisa mengambil keputusan atau sikap yang memang menyelesaikan sebuah masalah tetapi kadang kala dengan sikap yang kita pilih tersebut, ternyata ada pihak yang merasa terluka. Seharusnya jika kita ingin menasehati orang lain sebaiknya jangan sampai orang lain merasa digurui; kita menang tanpa orang lain merasa dikalahkan dan kita sukses tanpa orang lain merasa terdzolimi. Kita harus melatih diri sekuat tenaga untuk bisa merubah sesuatu tanpa kita merasa berjasa, atau orang lain merasa lebih rendah dan hina. Untuk bersikap seperti ini kita perlu berlatih untuk tidak menonjolkan diri seakan-akan kitalah yang paling bisa, paling pandai, paling mulia, paling berjasa. Karena semakin sering kita menonjolkan diri justru itulah sifat yang kekanak-kanakkan.
3.      Semakin memperbaiki isi daripada topeng. Orang yang senang memamerkan topeng adalah salah satu sikap yang kekanak-kanakkan. Untuk itulah kita harus lebih senang meningkatkan kualitas kepribadian, kualitas keimanan, kualitas keilmuan dan wawasan, kualitas akhlak dan keikhlasan.

AKAR BK UNS Surakarta

 
Design by MAS-F production | Bloggerized by Aliph Pakingso - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting